|
Aku adalah ketiadataraan penciptaan.
Bukan, aku bukan kelapangan dalam keterbatasan. Aku hanya seorang jiwa yang mencari tempat persinggahan. Dalam rentangan kisah
hidup yang tertulis dalam goresan-goresan hati, aku hanyalah sebuah titik yang dikelilingi noktah-noktah besar pensucian.
Aku adalah ketiadataraan pensucian. Bukan, aku bukan seorang bijak. Aku hanya sebuah cahaya redup yang terus mempertahankan
diri agar angin tak menelannya. Oh dewa langit tebarkanlah kasihmu dan basuhlah jiwa-jiwa yang kotor ini dengan derai air
mata kasih mu. Jadikanlah aku sepasang sayap yang dapat menempuh peraduan mu dengan sang raja siang.
Dari tempat itu aku bisa melihat segala kenistaan, caci maki sumpah serampah
dari jiwa-jiwa yang merasa lebih berkuasa dari apa yang Tuhan telah berikan. Agar kemudian aku dapat menceritakan kebijakan
sang dewi bumi yang masih terus saja memberikan pundaknya sebagai pijakan mereka.
Dari tempat itu juga, aku dapat
menyaksikan dan mengerucutkan telinga ku untuk mendengar belas kasih, cinta, keindahan, dan makna persahabatan atas jiwa-jiwa
yang merasa lemah dari apa yang telah Tuhan mampukan kepada mereka. Agar kemudian aku dapat ingatkan kedengkian sang dewa
murka yang ingin memecahkan rantai-rantai penyatuan cinta mu.
Aku adalah ketiadataraan kasih. Bukan, aku bukan seorang
pemabuk cinta yang buta. Aku hanya secercah sinar bagi sebagian jiwa yang kosong. Untuk kau Venus dan Athena, tak akan ada
lagi pesembahan jiwa-jiwa suci dari anak-anak kami, karena kau adalah tak lebih dari pendustaan dan pengingkaran akan takdir.
Aku adalah ketiadataraan untaian kata. Bukan, aku bukanlah seorang pujangga.
Aku hanya menggunakan apa yang telah jiwa ku titipkan. Demi kasih ku akan ku berikan segala hal yang telah menjadi makna hidup
ku. Demi kau akan slalu ku rangkai mawar-mawar utk kemudian ku kalungkan dalam relung jiwa mu. Demi kau akan terus kubebankan
mata ini agar selalu terjaga utk menjaga keutuhan cinta kasih yang telah kita rajut dan rendam dlm aliran sungai kerinduan
dan menjadi perekat jiwa kita.
|
 |
|

|
 |
|
|
 |
|
Kami hanyalah cahaya-cahaya penjaga dari perjalanan jiwa dan ruh kami.
Sang waktu, kali ini dengan sangat hina kami memohon padamu untuk berhenti berputar hari ini. Karena masih ada bagian jiwa
kami yang tertinggal hari lalu, biarkanlah dia mengejar perjalanan kami. Karena tanpa dia kami bukanlah apa-apa dan dia tanpa
kami adalah pengeringan lautan makna keindahan hidup ini.
Aku adalah ketiadataraan pengingkaran. Bukan, aku bukan
seorang pendusta. Aku hanyalah barisan kata-kata kebenaran yang terangkum dan terselimuti atas kebajikan-kebajikan semu. Namun
cintaku, percayalah akan selalu ada ruang untuk penambatan hati mu serta penghabisan prahara derita cerita ini.
|
|